Translate

Search This Blog

Wednesday, March 17, 2010

SUARA DARI KOLONG JEMBATAN


Pagi Masih terlihat gelap, Udara masih terasa dingin menusuk tulang yang hanya berbalut daging dan selembar kain. Tapi di pagi buta ini ada rasa lapar yang melilit, ya….. mungkin santapan semalam tak cukup bertahan hingga pagi menjelang. Maklum hanya beberapa suap nasi kering yang tersisa malam itu dan kenyang pun tak kunjung datang, sehingga hanya rasa lapar saja yang dapat membuat tidurku lelap malam itu.. Terbang bersama mimpi yang begitu indah, mimpi tentang senyuman, mimpi tentang kekenyangan, ya…. walau hanya sebuah mimpi tapi toh aku masih bisa bermimpi, karena kakekku pernah bilang, manusia tanpa mimpi laksana mayat hidup, tak punya tujuan ataupun keinginan, manusia tanpa mimpi hanya berjalan tanpa arah tanpa harapan. Tapi itu dulu dikala beliau masih hidup… beliau senantiasa memberiku nasehat, “Bermimpilah” karena itu membuat hidupmu lebih berarti… tapi kadang kala beliau sering bangun larut malam justru Dikala orang terlelap tidur berselimutkan lembaran-lembaran mimpi indah tentang masa depan mereka, berharap bahwa esok akan lebih baik dari hari ini.. entah apa yang beliau lakukan ketika beliau terbangun setiap larut malam.. pernah kulihat beliau tengah bersujud dengan deraian tangisan yang sangat memilukan hati.. aku terbangun dan bertanya.. Knapa kek?? Kakek sakit yach..?? atau kakek Capek?? Tapi jawaban beliau selalu sama dari hari kehari.. “Suatu saat nanti engkau pasti akan mengerti, bahwa ada yang mengatur segalanya di muka bumi ini, bahwa ada yang lebih berkuasa yang telah menciptakan bumi ini…..dan hanya kepada-Nya engkau harus meminta dan memohon……. dialah Allah ……!!!!” tapi …aku tak tahu siapa itu Allah….. karena Beliau terlalu cepat pergi. Ya….. Pergi dengan segenap keyakinannya… Pergi membawa segala Nasehat-nasehatnya, pergi untuk meninggalkanku selamanya… meninggalkan beribu tanda Tanya yang belum sempat beliau jawab.
Pernah Mpok Sendari yang terbilang dekat dengan ku… mungkin karena Gubuk nya berada disebelahku, atau mungkin ada kisah lain yang membuat kami begitu dekat dan akrab, sehingga dikala kakekku meninggalkan dunia ini dialah yang mulai memberikan perhatian kepadaku walau tidak sebaik perhatian yang diberikan kakekku dulu, dan dia lah yang mulai membeberkan kisah hidupku.. masa lalu yang membuatku penasaran.. kalimat demi kalimat mulailah mengalir dari awal aku berada ditempat ini hingga aku menginjak usia kanak-kanak dan remaja, nyatalah bahwa aku bukanlah cucu dari kakekku, beliau menemukanku diantara tumpukan sampah, tengah menangis menahan rasa lapar dan kedinginan tanpa selembarpun baju yang melekat ditubuhku, aku ditinggalkan begitu saja, tanpa tahu dimana ayah atau ibuku, tak terasa air mataku mulai mengalir, kesedihan berbalut kepedihan dalam hatiku membuatku terpaku dan akhirnya terjatuh dalam pelukan Mpok sendari.. air mataku mulai mengalir dengan deras, sebesar itukah kebencian mereka terhadapku, dibuang dan ditinggalkan tanpa rasa kasihan, tak peduli aku hidup atau mati… kalau seperti itu untuk apa aku diciptakan… untuk apa aku ada di Dunia ini.. hanya untuk menjadi cacian.. seperti tumpukan sampah yang dibuang tanpa dipedulikan.. hingga kebencian itu tumbuh dihatiku… Orang tuaku telah lama mati. jikapun mereka datang dengan berjuta penyesalan menghampiriku, bersujud memohon maafku maka hatiku sudah tertutup rapat…. Mereka telah mati… Mati untuk selamanya. dan rasa kagum kepada kakekku bertambah besar, hingga rasa sayang dan kerinduan akan kehadiran beliau kembali menyeruak dilubuk hatiku, aku kembali menangis dalam dekapan Mpok sendari.. hingga aku tertidur dalam kelelahan merasakan Kepedihan Kisah Hidupku, merasakan kerinduan yang begitu dalam, Begitu besarnya kebaikan yang beliau berikan, mengurusku layaknya anak sendiri, memberiku sebuah nama…. “Elang”…. Ya Elang…. biar aku bisa terbang tinggi katanya.. ah ….. masa itu terbayang kembali dikala kami tertawa bersama… menyusuri sungai mencari selembar kardus atau Botol-botol plastic yang dapat kami jual ke Kong ahong… aku tak pernah melihatnya bersedih atau mengeluhkan nasib kehidupannya… ia selalu bilang hidup itu seperti Roda, kadang di bawah dan suatu saat nanti pasti kita berada diatas… mungkin itulah mimpi beliau, keyakinan yang tak pernah pudar bahwa suatu saat nanti kita akan berada diatas … tapi tak pernah ku mengerti, diatas dimana… hingga penyakit lama yang membuat beliau meninggalkan Dunia ini begitu cepat… Wajahnya terlihat tenang laksana air yang mengalir.. ada sedikit senyuman tersungging dibibirnya yang pecah-pecah ... Matanya tertutup rapat.. kedua tangannya bersedekap diatas dada entah siapa yang menyimpannya seperti itu.. karena yang kutahu aku hanya bisa bersedih dan menangis saat melihat kakekku terbujur kaku, entah siapa yang akan membawaku menyusuri kembali sungai ini, mengurusku dengan penuh kasih sayang… aku menangis dan terus menangis .. lelah rasanya hingga aku terlelap tidur disamping jasad beku kakekku.. dimana itulah pertama kali beliau tak memperdulikan tangisan dan kesedihanku dan aku masih teringat di malam terakhir beliau tersenyum dan menyambutku dengan penuh senyuman dikala aku selesai bermain dengan teman-temanku dipinggir sungai itu… beliau hanya membisikkan sebuah nasehat kepada ku katanya “ jangan engkau pernah menyerah menghadapi kehidupan ini ” dan malam ini hanya satu yang beliau katakan tentang kerinduan beliau untuk bertemu seseorang… Entah siapa, tapi itulah malam terakhir aku melihat senyumannya, yang hingga kini masih terbayang dimataku… ya…. 7 tahun yang lalu, bukan waktu yang sebentar untuk terus merindukan kehadiran seseorang dan pagi ini aku kembali terbangun dari mimpi malamku karena rasa lapar yang kian melilit, padahal hari masih gelap, mentaripun masih enggan memperlihatkan cahayanya, mungkin ia masih malas untuk kembali melihat Dunia ini atau ia masih tertidur lelap berselimutkan awan-awan yang hitam pekat… ah …. Aku tak peduli… aku hanya ingin keluar, mungkin diantara tumpukan sampah ada sisa makanan yang terbuang oleh mereka yang menikmati malam-malamnya dipinggir sungai ini… manusia-manusia kelelawar yang hidup dimalam hari dan takut oleh cahaya matahari… ha.. ha.. ha.. julukan yang kuberikan, walau ku tahu mereka tak peduli apapun julukan mereka… karena yang kutahu dimalam harilah mereka keluar dengan bedak-bedak yang menutupi keburukan wajah mereka.. Bibir-bibir mereka merah laksana darah… tertawa mereka membuatku merinding mengingatkanku akan sebuah poster Film hantu yang ada disebrang sungai ini… Desahan-desahan yang keluar dari mulut mereka.. ketika mereka menikmati malam demi malam diantara rerumputan dipinggir sungai ini.. dibawah sinar bulan yang tak pernah peduli akan apa yang sedang dilakukan oleh sepasang manusia di antara derasnya air sungai ini.. hanya untuk selembar demi selembar uang yang setiap malam pun tetap mereka habiskan untuk sebotol minuman penghangat tubuh.. atau minuman yang mungkin membuat mereka melupakan segala beban hidup yang hinggap dijiwa-jiwa kosong mereka… ya Kosong seperti Botol-botol yang pagi ini berserakan entah berapa banyak.. tapi lumayan buat kujual ke kong ahong sekadar untuk memberiku kehidupan hari ini.. dan benar saja ada bungkusan sisa makanan semalam… lumayan untuk mengisi Perutku yang terus meminta untuk segera diisi… ah nikmat sekali rasanya… sedikit demi sedikit rasa laparku mulai hilang, hingga akupun kembali ketempat peraduan terindah ku untuk menikmati dinginnya malam dan menunggu keberanian mentari menampakkan wajahnya kembali.

Google+ Followers

PENGUNJUNG YANG TERCINTA

Artikel, Gambar, Video yang ada di website ini terkadang berasal dari berbagai sumber website lain, Dan Hak Cipta Sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut. Jika Anda Keberatan, Apabila Ada Artikel, Gambar, ataupun Video yang tidak berkenan bagi anda ataupun merupakan Hak Cipta Anda, Segera KONTAK KAMI agar dapat kami tindak lanjuti secepatnya

Silahkan Kasih Komentar Agar Blog ini Dapat lebih menarik lagi... & Terima Kasih atas Komentarnya.

Popular Posts

BANDUNG Paris van Java With Love

Blog seru lainnya.

BERITA KITA

VIDEO

Loading...

searchresults

Search Engine