Translate

Search This Blog

Sunday, May 16, 2010

Saat Cinta Menyapa Hati



Pernah suatu ketika saat Cinta menyapa Hati, Hati hanya tersenyum getir tanpa menjawab.

Cinta kembali menyapanya, namun ia lebih bungkam.

Cinta pun bertanya, “Duhai Hati, mengapa kau diam dan tak menjawab salam?”

Hati hanya menatapnya sejenak, dan kembali tertunduk diam.

Cinta kembali bertanya, “Apa yang membuatmu bungkam?”

Hati kembali menatapnya. Kali ini sedikit lebih lama.

Kemudian Hati berkata, “Aku hanya tak ingin kau ada disini”

Cinta tertegun, “Mengapa?” tanyanya.

“Tak apa” ujar Hati.

“Katakanlah Hati, mengapa kau tak inginkan keberadaanku disini bersamamu?” Cinta kembali bertanya, ingin tahu.

“Haruskah ku katakan alasannya kepadamu, Cinta?” Hati balik bertanya.

“Ya, harus, karena aku tak mengerti” jawabnya.

Hati terdiam. Kemudian ia menarik nafas panjang.

“Karena aku pernah terluka karena cinta, dan luka itu masih membekas disini” kata Hati.

Cinta diam. Sedikit terkejut.

Ia menatap Hati dalam-dalam. Dalam, sampai ke mata hatinya.

Hati tertunduk, semakin menunduk.

"Apakah kau menyalahkanku, Hati?” tanyanya tiba-tiba.

Hati terkesiap, “Apa maksudmu, Cinta?” ujarnya.

“Apakah kau menyalahkanku atas luka yang pernah kau rasa?” tanya cinta.

Hati terhenyak. Kemudian ia menatap cinta dengan sayu. “Ya, mungkin”, ujarnya.

“Mengapa?” Cinta kembali bertanya

“Karenamu aku sangat menderita, Cinta..” jawabnya lirih.

Cinta kembali menatap Hati, kemudian berkata, “Hati, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?”

“Bukankah sedari tadi kau sudah bertanya?” jawab hati, heran.

“Ya,” katanya. “Namun ini beda, karena aku ingin bertanya ke dalam ‘diri’mu” .

Hati termenung. “Baiklah, katakan saja” ujarnya.

“Apakah dulu kau terlalu mengagungkan dan memujaku?”

“Ya” jawabnya.

“Apakah ketika bersamaku sudah kau niatkan untuk ALLAH?” tanya cinta lagi.

Hati diam sejenak. “Tidak”, katanya.

Cinta menarik nafas, kemudian ditatapnya Hati dengan lembut dan sambil tersenyum.

“Wahai hati, ketahuilah..” Cinta mulai bicara, “Aku tercipta hanya sebagai anugrah, tugasku adalah membuat semua makhluk dapat hidup tentram dan saling berdampingan, keberadaanku untuk menciptakan kedamaian tanpa ada permusuhan ataupun peperangan. Sedangkan kau adalah tempat dimana seharusnya aku tinggal, tempat dimana aku tumbuh, dan dimana aku menghilang. Karena itu tak sepantasnya kau memujaku, karena sesungguhnya aku bukan Tuhan yang pantas dipuja dan diagungkan..”

Hati terdiam.

“Wahai Hati..” lanjut cinta, “Bila engkau terluka dan menderita, itu bukan salahmu, itu pun bukan juga salahku. Sakit yang kau rasa hanyalah ketidak-ikhlasan untuk menerima takdir Yang Maha Kuasa. Sadarilah, DIA lah Pemilik Hati dan Cinta Abadi. DIA pemilik kita yang hakiki. ALLAH hanya menitipkan kita pada makhluk-makhluk ciptaanNYA. Jadi bila suatu saat kita dipisahkan, itulah kehendak terindahNYA. Mungkin aku akan dipindahkan ke hati makhluknya yang lebih membutuhkanku, dan mungkin suatu hari kau pun akan diisi dengan cinta yang lebih mulia daripada cinta yang pernah ada bersamamu..”

“Duhai Hati yang telah tercipta dengan begitu lembut.. kelembutanmu bukan sebagai kelemahanmu, tapi kelembutanmu adalah kekuatan untuk merasakanku, Sang Cinta. Kekuatanmu untuk menebarkanku kepada hati-hati yang lain, agar semua hati menjadi kuat, dan dunia pun menjadi damai sesuai dengan ketentuan ALLAH saat pertama kali DIA menciptakan kita.”

Hening sejenak. Cinta melihat Hati mulai terisak pelan.

“Hati.. tak perlu menangis..” Cinta mulai menghiburnya, “tak perlu bersedih atas semua yang terjadi.. hanya perlu ikhlas dan ridho atas kehendak ALLAH, dan yakinlah bahwa DIA dekat dan selalu ada untuk hambaNYA.”

Hati semakin terisak.

“Hati.. tenanglah.. karena cinta tak akan pernah memaksa hati bila ia memang belum ingin didatangi. Cinta itu kecil, maka Hatilah yang membesarkan cinta. Karena itu, cinta hanya mendatangi hati yang memang sudah siap menerima cinta apa adanya dengan penuh ketulusan, karena nanti kau akan mendapatkan balasan hal yang lebih besar, balasan yang hanya Pemilik Hati dan Cinta Abadi lah yang tau apa itu. Jadi cukuplah ALLAH yang kita jadikan sebagai penggenggam kita..”

Perlahan Hati berhenti terisak. Kemudian dipandanginya Cinta.

“Kau benar, Cinta.. Terima kasih karena telah mengingatkanku tentang semua ini.” ujar Hati kemudian.

Cinta pun tersenyum.

“Kalau begitu, izinkan aku berdamai dengan diriku sendiri, nanti bila aku sudah cukup siap, kan ku panggil dirimu untuk ada disini bersamaku.” Lanjut Hati.

“Baiklah” kata Cinta. “Apapun keputusanmu, itulah yang terbaik.”

Cinta mulai beranjak pergi , setelah beberapa langkah, Cinta kembali menoleh pada Hati yang masih sedikit terisak, “Tapi ingatlah, aku akan selalu menunggu saat dimana aku akan memenuhi panggilanmu, Hati..” ujarnya lembut, sambil berlalu melanjutkan langkahnya.

Hati tersenyum. Dipandanginya Cinta yang semakin menjauh. “Ya, akan kuingat itu. Dan percayalah, setiap hari akan kusapa kau dalam doaku, dan suatu hari akan kusentuh kau dalam diamku, Cinta..”

Makasih buat
*Mutia. R - Yogyakarta, 16 Mei 2010
yang telah mengijinkan tulisan ini hadir diblog ku buat dibaca oleh rekan-rekan sekalian.

Google+ Followers

PENGUNJUNG YANG TERCINTA

Artikel, Gambar, Video yang ada di website ini terkadang berasal dari berbagai sumber website lain, Dan Hak Cipta Sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut. Jika Anda Keberatan, Apabila Ada Artikel, Gambar, ataupun Video yang tidak berkenan bagi anda ataupun merupakan Hak Cipta Anda, Segera KONTAK KAMI agar dapat kami tindak lanjuti secepatnya

Silahkan Kasih Komentar Agar Blog ini Dapat lebih menarik lagi... & Terima Kasih atas Komentarnya.

Popular Posts

BANDUNG Paris van Java With Love

Blog seru lainnya.

BERITA KITA

VIDEO

Loading...

searchresults

Search Engine