Friday, August 26, 2011

KETAKUTAN RASULULLAH AKAN DUNIA YANG MELIMPAH



Asy-Syaikhany mengeluarkan dari Abu Sa'id Al-Khudry di dalam sebuah hadits, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam duduk di atas mimbar dan kami pun duduk di sekitar beliau, lalu beliau bersabda,
"Sesungguhnya yang paling kutakutkan atas kalian ialah jika Allah membukakan kesenangan dan perhiasan dunia kepada kalian."
Begitulah yang disebutkan di dalam At-Targhib Wat-Tarhib, 5/144.

Asy-Syaikany juga mengeluarkan sebuah hadits dari Amr bin Auf Al-Anshay Radhiyallahu Anhu, yang di dalamnya dia berkata, "Rasulullah Shallailahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"TerimaIah kabar gembira dan satu harapan bagi kalian Demi Allah, bukan kemiskinn yang aku takutkan terhadap kalian, tetapi aku justru takut jika dunia dihamparkan kepada kalian, sebagaimana yang pernah dihamparkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu mereka saling berlomba untuk mendapatkannya, sehingga kalian menjadi binasa seperti yang mereka alami."
Begitulah yang disebutkan di dalam At-Targhib Wat-Tarhib, 5/141
Ya'qub bin Sufyan mengeluarkan dari IbnuAbbas Radhiyallahu Anhuma, bahwa Allah mengutus seorang malaikat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang disertai Jibril Alaihi Salam. Malaikat itu berkata,
"Sesungguhnya Allah menyuruh engkau untuk memilih, apakah engkau menjadi hamba dan nabi, ataukah menjadi raja dan sekaligus nabi."
Beliau menoleh ke arah Jibril layaknya orang yang meminta saran. Maka Jibril memberi isyarat, agar beliau merunduk dan patuh. Maka beliau menjawab,
"Aku pilih menjadi hamba dan nabi."
Setelah kejadian ini beliau tidak pemah makan sambil telentang, hingga beliau wafat. Yang serupa dengan ini juga diriwayatkan Al-Bukhary dan An-Nasa'y. Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Bidayah, 6:48.

Ahmad mengeluarkan dengan isnad yang shahih, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, "Umar bin Al-Khaththab ra. bercerita kepadaku, "Aku pernah memasuki rumah Rasulullah Shallailahu Alaihi wa Sallam, yang saat itu beliau sedang berbaring di atas selembar tikar. Setelah aku duduk di dekat beliau, aku baru tahu bahwa beliau juga menggelar kain mantelnya di atas tikar, dan tidak ada sesuatu yang lain, Tikar itu telah menimbulkan bekas guratan di lambung beliau. Aku juga melihat di salah satu pojok rumah beliau ada satu takar gandum. Di dinding tergantung selembar kulit yang sudah disamak. Melihat kesederhanaan ini kedua mataku meneteskan air mata.
"Mengapa engkau menangis wahai Ibnul-Khaththab?" tanya beliau. "Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis jika melihat gurat-gurat tikar yang membekas di lambung engkau itu dan lemari yang hanya diisi barang itu? Padahal Kisra dan Kaisar hidup di antara buab-buahan dan sungai yang mengalir. Engkau adalah Nabi Allah dan orang pilihan-Nya, sementara lemari engkau hanya seperti itu."
"Wahai Ibnul-Khaththab, apakah engkau tidak ridha jika kita mendapatkan akhirat, sedangkan mereka hanya mendapatkan dunia?"
Al-Hakimjuga mentakhrijnya secara shahih, berdasarkan syarat Muslim. Ibnu Hibban meriwayatkannya dari Anas, dan dia menyebutkan yang seperti ini. Begitulah yang disebutkan di dalam At-Targhib, 5/161

http://azharjaafar.blogspot.com/2008/08/rasulullah-saw-takut-terhadap-keduniaan.html

IBU MENGAPA ENGKAU MENANGIS



Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak”. “Aku tak mengerti” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti….”

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?”Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan”. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan.”Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?”Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,”Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman danlembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, danmengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada
bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan enjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan
jantung agar tak terkoyak?Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk
memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang
diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkanperasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan”.

Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu.

sumber:http://iferianto.multiply.com/journal/item/73/Ibu_Kenapa_Engkau_Menangis

Thursday, August 25, 2011

Arti seorang Wanita bagi Seorang Pria



Duhai Wanita
Tahukah engkau...
Mengapa Allah tak menciptakanmu
dari tulang Kepala Pria..?
Karena Allah tak hendak menjadikanmu
untuk dapat memimpin Pria

Lalu....
Tahukah pula engkau
mengapa Allah tak menciptakanmu
dari Tulang Kaki Pria..?
Karena Allah Tidak Hendak Menjadikanmu
Budak para Pria

Tapi Betapa Kasih Sayang Allah
menjadikanmu dari Tulang Rusuk Pria
Yang Berada Di sampingnya
Untuk mendampingi Hidupnya
Berada Dekat dengan Lengannya
Untuk di lindunginya
dan dekat di hatinya
Untuk di Cintainya......

KEIKHLASAN



Ikhlas ... sebuah kata yang begitu mudah diucapkan
Namun begitu sulit untuk di lakukan
ketika kenyataan tak sesuai harapan
Tanamkan rasa Ikhlas
tuk menghadapinya dengan penuh keyakinan
Allah berada di atas segalanya
Ketika Hati Gundah Gulana
Tak Jua Kunjung tiba Keinginan yang menggelora dalam dada
Tanamkan Rasa Ikhlas
Tuk terus berjuang walau hanya sebuah Impian
karena Allah lebih punya kuasa
atas apa yang harus terjadi pada diri kita
Ketika Jiwa Tak tenang
Bercucuran air mata ketika Rasa sakit mendera
Tanamkan Rasa Ikhlas
Karena Allah Memberi tanpa tujuan menyakiti
dan Kuasa Allah tuk menguji sekuat apa keimanan di Hati Kita
Ketika Rasa Bahagia Mendera hari demi hari kita
Tanamkan pula Rasa Ikhlas
Karena Allah tak selalu menguji dengan kesengsaraan
adakah kebahagiaan itu melalaikan kita
dari mengingat-Nya dalam setiap detik yang kita lewati
Ya Allah ......
Berat Beban Hidup kami
Berat Derita Hidup kami
Berat Kesedihan Hidup Kami
adalah Ujian yang selalu Engkau berikan
Sebagai Rasa Sayang dan Cinta-Mu kepada Kami
Tiada Kesusahan selain dari dihapusnya dosa-dosa kami
Tiada Kesenangan selain untuk mengingatkan kami
dan tiada Air mata selain untuk memadamkan api Neraka
Semua Sirna dan menjadi Butir-butir Permata Keindahan
Ketika Keikhlasan Tertanam dalam Jiwa
Keyakinan akan-Mu ... Ya Allah...
Bahwa Hidup adalah Perjuangan
Tuk menggapai Cinta dan sayang-Mu
Tuk Menggapai Kebahagiaan Abadi-Mu
Ya Allah ....
Kuatkan hatiku dan keyakinanku
Bahwa Segala Permasalahan dalam Hidupku
adalah Bentuk Kasih dan Sayang-Mu
Ya Allah ....
Tanamkan Keikhlasan dalam Langkah-langkah Hidupku
Amiin...

Wednesday, August 24, 2011

A. Hassan: Ulama Nasional yang Serba Bisa, Mandiri, Tegas dan Gigih Berdakwah

A. Hassan: Ulama Nasional yang Serba Bisa, Mandiri, Tegas dan Gigih Berdakwah

Perkembangan Islam nusantara pada paruh pertama abad XX merupakan zaman pergolakan pemikiran dengan semangat memurnikan ajaran Islam sesuai Al-Qur'an dan Sunnah. Pergolakan ini menjelma dalam bentuk gerakan sosial keagamaan seperti Muhammadiyah, Persatuan Islam dan Al-Irsyad. Dalam gerakan-gerakan itu, sosok Ahmad Hassan tidak mungkin dilewatkan karena perannya yang begitu besar dan pengaruhnya yang begitu luas melewati batas organisasi.

Posisi Ahmad Hassan dalam pertarungan pemikiran Islam itu ditunjukkan lewat tulisannya yang tajam dan tegas di berbagai risalah, buku, dan majalah. Di samping itu, ia juga dikenal sebagai ahli debat yang ulung dalam menggugurkan argumentasi lawan-lawannya. Kontribusi Ahmad Hassan dan murid-muridnya yang menjadi tokoh Persatuan Islam, seperti Muhammad Natsir dan Isa Anshari.

::

Di kalangan pecinta buku-buku islami, Ahmad Hassan lebih akrab dengan nama singkat A Hassan, karena nama inilah yang dicantumkan dalam puluhan kitab yang ditulisnya. Ia dikenal pula dengan panggilan akrab Hassan Bandung karena lama tinggal di Bandung, atau Hassan Bangil karena mendirikan Pesantren di Bangil, Jawa Timur.

A Hassan lahir pada tahun 1887 di Singapura dengan nama kecilnya Hassan Bin Ahmad. Ayahnya bernama Ahmad seorang pedagang, pengarang dan wartawan terkenal di Singapura. Ia menjadi pemimpin redaksi surat khabar “Nurul Islam” yang terbit di Singapura. Sedangkan ibunya, Hajjah Muznah berasal dari Palekat, Madras India dan mempunyai asal-usul dari Mesir, tetapi lahir di Surabaya.

Dalam lingkungan perniagaan dan kewartawanan ayahnya itulah A Hassan dilahir dan dibesarkan. Sebagai anak laki-laki, sang ayah berharap apabila besar nanti A Hassan menjadi seorang penulis seperti dirinya. Untuk itu, dia berusaha memberi pendidikan yang terbaik kepada A Hassan.

Suatu keistimewaan yang dianugerahkan Allah SWT kepada Hassan, dalam usia 7 tahun, dia sudah mempelajari Al-Quran dan dasar-dasar pengetahuan agama. Berkat ketekunan dan kecerdasannya, kedua pelajaran ini dapat diselesaikannya dalam tempo dua tahun.

Selepas itu Hassan masuk sekolah Melayu selama 4 tahun dan mempelajari bahasa Arab, bahasa Melayu, bahasa Tamil dan bahasa Inggris.

Hassan tidak sempat menamatkan sekolah dasarnya di Singapura, tetapi dia sudah mulai bekerja pada usianya 12 tahun. Dia bekerja di sebuah kedai kepunyaan iparnya Sulaiman.

Hassan mempelajari ilmu nahwu dan sharaf pada Muhammad Thaib, seorang guru terkenal di Minto Road atau juga terkenal Kampung Rokoh.

Demi semangat dan cintanya kepada ilmu, Hassan menerima persyaratan dari gurunya, yakni datang belajar pagi sebelum subuh dan tidak boleh naik kenderaanketika datang mengaji.

Setelah beberapa lama belajar Nahwu-sharaf, lalu Hassan memperdalam bahasa Arab kepada Said Abdullah Al-Munawi Al-Manusili selama beberapa tahun.

Di samping itu, Hassan juga memperdalam agama dengan Abdul Lathif (guru yang terkenal di Melaka dan Singapura), Haji Hassan (Syeikh dari Malabar) dan Syeikh Ibrahim India.

Semua proses belajar seperti ini ditekuni oleh Hassan dengan penuh dedikasi hingga tahun 1910 ketika Hassan berusia 23 tahun.

...di luar waktu belajar, A Hassan mengasah bakat keterampilan dalam bidang bertenun dan pertukangan kayu. Dia juga membantu ayahnya di percetakan, menjadi pelayan di kedai perniagaan permata, minyak wangi, dsb...

Meskipun ketekunannya dalam menuntut ilmu begitu tinggi, di luar waktu belajar, Hassan juga mempunyai keterampilannya tersendiri mengasah bakat dalam bidang bertenun dan pertukangan kayu. Dia juga sempat membantu ayahnya di percetakan, menjadi pelayan di kedai perniagaan permata, minyak wangi, dan sebagainya malah pernah bekerja di Jeddah Pilgrim’s Office, sebuah pejabat urusan jemaah haji.

Setelah menyelesaikan proses belajar hingga tahun 1910, Hassan mula mengabdikan diri sebagai guru. Sementara di Madrasah untuk orang-orang India di beberapa tempat, antaranya di Arab Street, Baghdad Street dan Geylang di Singapura.

Keinginan ayahnya untuk melihat Hassan menjadi penulis mulai menampakkan hasilnya apabila Hassan mulai menunjukkan kecenderungannya ke bidang tersebut dalam usia masih muda.

Pada tahun 1912-1913, dia membantu Utusan Melayu yang diterbitkan di Singapura pimpinan Inche Hamid dan Sa’dullah Khan.

Hassan banyak menulis tentang agama yang berupa nasihat, anjuran berbuat baik dan mencegah kejahatan. Ia juga menyoroti berbagai persoalan yang berkembang dalam bentuk ‘syair’. Tulisannya banyak mengandungi kritikan masyarakat demi untuk kemajuan Islam. Dan tema tulisan sedemikian itulah yang banyak mewarnai hasil karyanya di masa-masa berikutnya.

Ulama Tegas dengan Prinsip Mandiri, Berdiri Tegak di Atas Kaki Sendiri

Selain dikenal sebagai ulama terkemuka di Indonesia, nama A Hassan juga tersohor sampai ke Malaysia dan Singapura, karena nama besar Pesantren Persis yang didirikannya terkenal sampai ke sana. Bahkan buku-buku agama yang ditulisnya kerap jadi rujukan di negeri jiran tersebut.

A Hassan dikenal sebagai ulama pembaharu. Pikiran-pikirannya sangat tajam dan kritis terutama dalam cara memahami nas (teks) Al-Qur’an maupun Hadits yang cenderung literalis. Walaupun dikenal sebagai pemuka dan guru besar Persatuan Islam (PERSIS) pendapat dan sikapnya terhadap takhayul, bid’ah dan churafat (TBC) bisa dikatakan sama persis dengan Muhammadiyah. Oleh karena itu, ada pula sebagian besar warga persyarikatan Muhammadiyah mengutip pendapat dari A Hassan, karena dianggap jelas dan tidak bertele-tele.

Keahliannya dalam bidang Hadits, Tafsir, Fiqih, Ushul Fiqih, Ilmu Kalam dan Mantiq, menjadikannya sebagai rujukan para penanya dan pemerhati kajian Islam dalam berbagai masalah. Koleksi bukunya sangat banyak yang selalu dibaca, diteliti, bahkan mungkin dihafal olehnya.

A Hassan juga dikenal sebagai ulama yang mempunyai prinsip berdiri tegak di atas kaki sendiri yang merupakan hasil pendidikan langsung dari orang tuanya. Artinya tidak pernah mengharapkan bantuan orang lain dan selalu berusaha dengan tangan sendiri dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hal ini terlihat ketika A Hassan masih remaja, ia pernah menjadi buruh di toko kain, berdagang permata, minyak wangi, vulkanisir ban mobil, menjadi guru bahasa Melayu, bahasa Arab, guru agama, menulis opini dan karangan dalam majalah ataupun surat kabar, baik yang ada di Singapura dan Indonesia.

...Salah satu tulisan A Hassan yang dianggap kritis saat itu ialah kritikannya terhadap Tuan Qadhi (Hakim Agama) yang memeriksa perkara dengan mencampurkan tempat duduk pria dan wanita (ikhtilath). Padahal saat itu, Qadhi memiliki kedudukan yang tinggi sehingga tidak ada yang berani mengkritiknya...

Salah satu tulisannya yang dianggap kritis saat itu ialah kritikannya terhadap Tuan Qadhi (Hakim Agama) yang memeriksa perkara dengan mencampurkan tempat duduk pria dan wanita (ikhtilath). Saat itu merupakan tindakan yang dianggap luar biasa mengingat Qadhi (Hakim Agama) memiliki kedudukan yang tinggi sehingga tidak ada yang berani mengkritiknya. Itulah tulisan A Hassan yang pertama kalinya.

Dalam profesinya sebagai pengarang dan penulis, Hassan juga pernah membuat cerita humor yang berjudul ’Tertawa’ dan diterbitkan dalam empat jilid.

Pada tahun 1909, dalam usia yang masih relatif muda, A Hassan aktif menjadi asisten “Utusan Melayu.” Ia aktif memberi ceramah. Pidatonya tentang kemunduran umat Islam dianggap terlalu politis sehingga ia dilarang untuk berpidato di muka umum.

Pada tahun 1921, A Hassan pindah dari Singapura ke Surabaya. Awalnya ia berdagang tetapi mengalami kerugian dan kembali ke profesi awalnya sebagai tukang vulkanisir ban mobil. Sambil berwiraswasta, ia menjalin persahabatan dengan beberapa tokoh Syarikat Islam. Di antaranya, HOS Cokroaminoto, AM Sangaji, H Agus Salim dan lain-lain. Sambutan hangat ditunjukkan kepada A Hassan karena kepiawaiannya dalam ilmu Agama dan jiwa pejuang yang dimilikinya.

Ia juga pernah belajar tenun di Kediri, tetapi tidak memuaskannya, sehingga pada tahun 1925 ia pindah ke Bandung dan mendapat ijazah menenun di Kota Bandung. Di kota inilah ia berkenalan dengan para saudagar PERSIS, antara lain, Asyari, Tamim, Zamzam dan lain-lain. Dari perkenalan inilah A Hassan sering diundang untuk ceramah dan memberikan pelajaran pada pengajian-pengajian jamaah PERSIS. Dengan metode dakwahnya dan kepribadiannya serta pengetahuannya yang luas, jamaah PERSIS tertarik dengan A Hassan sehingga ia dikukuhkan sebagai guru dan tokoh PERSIS. Hal inilah yang membuat ia membatalkan untuk kembali ke Surabaya.

Di Bandung selain aktif sebagai guru PERSIS, ia memberi kursus/privat kepada pelajar-pelajar didikan Barat, bertabligh setiap minggu, menyusun berbagai karangan pada berbagai majalah.

Debat A Hassan Kontra Ahmadiyah

Sejak awal A Hassan yang ahli debat itu sangat menetang Ahmadiyah, sebab ajarannya menyeleweng dari ajaran Islam. Penyelewengannya yang terutama adalah pengakuannya terhadap Murza Gulam Ahmad sebagai nabi setelah Nabi Muhammad SAW, dan mengaku adanya kitab suci setelah Al-Quran, yaitu Tadzkirah yang diturunkan kepada Murza Gulam Ahmad. Inilah penyelewengan yang sangat fatal. Bila mengaku ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad Saw dan ada kitab suci setelah Al-Quran, kelompok itu jelas keluar dari Islam, tidak termasuk golongan muslim.

Maka pada tahun 1930-an, Tuan Hassan melakukan perdebatan dengan tokoh Ahmadiyah Indonesia, Abubakar Ayyub.

...Sejak awal A Hassan yang ahli debat itu sangat menetang Ahmadiyah, sebab ajarannya menyeleweng dari ajaran Islam. Maka pada tahun 1930-an, A Hassan melakukan perdebatan dengan tokoh Ahmadiyah Indonesia, Abubakar Ayyub. ...

Dalam perdebatan itu, A Hassan mengemukakan sebuah “hadits” yang berbunyi: “Di hari Rasulullah SAW meninggal, bumi berteriak, katanya: “Ya Allah, apakah badanku ini akan Engkau kosongkan daripada diinjak oleh kaki-kaki nabi sampai hari kiamat?” Maka Allah berfirman kepada bumi itu: “Aku akan jadikan di atas badanmu manusia yang hatinya seperti nabi-nabi.”

Abubakar Ayyub lalu menanyakan tentang riwayat hadits ini. Maka A Hassan menjawab tidak tahu, sambil berkata: “Apakah tuan suka hadits ini? Bila tuan suka silakan pakai, bila tidak silakan tolak.”

Abubakar Ayyub pun menolak “hadits” yang disampaikan oleh A Hassan itu, karena tidak jelas siapa perawinya, dari mana diambilnya, dan di kitab apa tertulisnya. Pengikut Ahmadiyah yang hadir ketika itu bersorak, merasa bangga dengan tokohnya yang akan menang berdebat dengan waktu singkat, sebab A Hassan tidak bisa menerangkan riwayat hadits yang dibacanya. Para penonton dari kalangan Ahmadiyah bersorak, dan Ayyub pun merasa dirinya menang.

Namun kemudian A Hassan membuat kejutan. Ia mengatakan bahwa hadits itu terdapat di kitab Mirza, Tuhfah Baghdad halaman 11. Seketika, para pengikut Ahmadiyah diam seribu bahasa.

Maka A Hassan meminta kepada Abubakar Ayyub agar bertanya kepada nabinya (Mirza) tentang riwayat hadits itu dan dari mana diambilnya, serta tanyakan pula, bagaimana bumi bisa bicara kepada manusia, sebab hadits itu bukan hadits nabi, mengingat bumi berteriak setelah Rasulullah wafat. Jadi, tegas A Hassan, tentu ada orang lain yang mendengar omongan bumi, dan jawaban Allah itu pun orang lain yang mendengar. Siapa dia? Tanyakan kepada “nabi” Mirza.

Abubakar Ayub yang ketika itu sudah kalah total tak bisa membantah argumen A Hassan, tetapi ia masih berkelit dengan mengatakan bahwa hadits itu, bisa jadi terdapat dalam kitab “Kanzul Ummi,” masih kitabnya Ahmadiyah, namun ia bahkan melemahkan dirinya dengan mengaku tidak membawa kitab tersebut, jadi tidak bisa dilihat.

...Abubakar Ayub, tokoh Ahmadiyah Indonesia itu sudah kalah total tak bisa membantah argumen A Hassan. Ia hanya berkelit...

Selanjutnya A. Hassan menegaskan bahwa dengan adanya “hadits” itu sudah cukup menunjukkan kepalsuan Mirza. Lagi pula, kata A Hassan, hadits yang dibawakan oleh Mirza itu dengan jelas menyebutkan bahwa nabi (setelah Nabi Muhammad) tidak ada lagi. Yang ada hanya orang-orang yang hatinya seperti nabi.

“Kalau perkataan yang begini terang, tuan mau putar-putar lagi, saya minta diadakan juri. Saya heran, apa sebab Ahmadiyah takut diadakan juri. Juri tidak akan makan orang!” tegas A. Hassan.

Dari perdebatan ini jelas bahwa sebenarnya Abubakar Ayyub tidak memiliki hujjah (dalil) yang kuat untuk membela Mirza Gulam Ahmad sebagai seorang nabi. Meski demikian ia tidak tunduk dan menjadi pengikut Islam yang benar. Ia tetap menjadi pengikut Ahmadiyah. Memang Abubakar Ayyub dikenal sebagai orang yang pandai memutarbalikkan fakta demi untuk mempertahankan keyakinannya kepada Ahmadiyah.

Hal itu terlihat ketika A Hassan tak menyebut rawi hadis dan kitab yang memuatnya, keluarlah ejekan dan cemoohan. Namun kektika A. Hassan menyebutkan bahwa hadis itu tertera di kitab Tuhfah Baghdad terbitan Punjab Press Sialkot, Muharram 1311 H, Abubakar Ayyub dan pengikut Mirza lainnya pucat pasi, tetapi mereka tidak berubah keyakinan, tetap menjadi pengikuti Mirza.

Ulama yang Kritis, Penulis yang Produktif

A Hassan adalah ulama yang sangat produktif dalam menulis. Di antara puluhan buku yang ditulisnya, beberapa yang paling populer adalah: Tafsir Al-Furqan, Soal-Jawab tentang Berbagai Masalah Agama (4 jilid), Kitab Pengajaran Shalat, dan Terjemah Bulughul Maram disertai catatan dari A Hassan.

Pemikiran A Hassan sering dianggap dengan suatu yang agresif, ekstrem, dan puritan, karena karakter pemahaman yang literalis. Hal ini sangat jelas dalam masalah yang berkaitan dengan ibadah, khususnya ibadah mahdhah, ia sama sekali menolak hal yang berbau bid’ah.

...A Hassan menekankan bahwa ijtihad harus merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits yang shahih saja. Implikasinya adalah terpinggirkannya fatwa para kiyai yang tidak diketahui rujukan nasnya atau bertentangan dengan nas....

Dalam prinsip ijtihad, A Hassan menekankan bahwa ijtihad harus merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits yang shahih saja. Implikasinya adalah terpinggirkannya fatwa para kiyai, terutama karena tidak diketahui rujukan nasnya atau bertentangan dengan nas. Kalaupun ada ulama yang dijadikan rujukan itu lebih karena pendapatnya dianggap sesuai dengan nas yang dapat dipertanggungjawabkan.

Konsekuensi dari daya kritisnya, A Hassan sangat menentang taklid (mengikuti pendapat tanpa mengetahui alasannya atau dalil) secara mutlak. Tetapi memperkenankan ittiba’, yaitu mengikuti suatu pendapat yang jelas dalilnya dan diakui kebenarannya.

Dalam beristimbath, A Hassan lebih memegang lafaz (kata) yang lebih jelas (zahir) dalam menyimpulkan hukum. A Hassan berpegang teguh pada zahir nas dan menolak takwil.

Sebagai penulis besar dan ulama yang banyak pergaulan, A Hassan tentu mendapat banyak kiriman surat. Tapi di tengah kesibukannya berdakwah, tabligh dan menulis, A Hassan sangat perhatian terhadap surat-surat yang dikirimkan kepadanya. Hampir-hampir tak ada satu surat pun yang tidak dibalasnya. Kalau surat itu berisi pertanyaan, niscaya dijawabnya dengan jelas dan gamblang. Agaknya, tak pernah A Hassan melalaikan selembar surat pun yang dikirimkan kepadanya, karena kepribadiannya yang tulus dan menghargai pendapat semua orang.

...A Hassan sangat menentang taklid (mengikuti pendapat tanpa mengetahui alasannya atau dalil) secara mutlak. Tetapi memperkenankan ittiba’, yaitu mengikuti suatu pendapat yang jelas dalilnya dan diakui kebenarannya....

Hijrah ke Bangil Mendirikan Pesantren PERSIS

Setelah tujuh belas tahun berjuang dan berdakwah di Bandung, pada tahun 1941 A Hassan berhijrah ke Bangil, bersama percetakannya untuk bekal hidup. Sebagaimana yang dilakukan semasa di Bandung, di tempat barunya ini A Hassan terus berdakwah melalui penulisan, tabligh, pengajian dan dialog serta perdebatan. Ia terus menulis buku, mencetak dan menerbitkannya sendiri.

Di Bangil, ia mendirikan pesantren PERSIS di samping pesantren putri yang sampai kini dihuni oleh para santri dari berbagai tanah air. Pesantren tersebut dipimpin oleh putra sulungnya Abdul Qadir Hassan. Solidaritas sosial yang sangat tinggi dari sosok ulama ahli debat dan teguh pendirian ini menjadi karisma tersendiri bagi orang-orang yang mengenalnya. Dia sangat memuliakan tamu dan pintunya selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang mengunjunginya dengan sambutan yang hangat dan akrab dari tuan rumah.

Akhirnya ulama yang hati-hati dalam agama, kritikus ulung dan memiliki semboyan hidup “Tidak ada penghidupan yang lebih baik dari hidup mengikuti tuntunan agama dan berbuat baik kepada siapapun sekadar bisa dan penuh keikhlasan” itu berpulang ke rahmatullah pada tanggal 10 November 1958 dalam usia 71 tahun. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepadanya.

...A Hassan telah lama pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Usianya dibatasi kematiannya, tapi pemikiran dan karya ilmiahnya masih hidup hingga sekarang, melalui puluhan kitab yang ditulisnya...

A Hassan telah lama pergi meninggalkan dunia yang fana ini, namun namanya tetap dikenang. Banyak hasil karya peninggalannya yang menjadi amal jariah yang tak terputus kepada tokoh ini. Usianya dibatasi kematiannya, tapi pemikiran dan karya ilmiahnya masih hidup hingga sekarang, melalui kitab-kitab yang ditulisnya, antara lain:

Tafsir Al-Furqan,
Soal-Jawab (4 jilid),
A.B.D. Politik,
Adakah Tuhan?
Al-Burhan,
Al-Fara’id,
Al-Hidayah,
Al-Hikam,
Al-Iman,
Al-Jawahir,
Al-Manasik,
Al-Mazhab,
Al-Mukhtar,
An-Nubuwwah,
Apa Dia Islam?
Aqaid,
At-Tauhid,
Bacaan Sembahyang,
Belajar Membaca Huruf Arab,
Bibel lawan Bibel,
Bulughul Maram,
Debat Kebangsaan,
Debat Luar Biasa,
Debat Riba,
Debat Taklid,
Debat Talqin,
Dosa-dosa Yesus,
First Step,
Hafalan,
Hai Cucuku,
Hai Putriku,
Halalkah Bermazhab?
Is Muhammad a Prophet?
Isa dan Agamanya,
Isa Disalib?
Isra’ Mi’raj,
Kamus Persamaan,
Kamus Rampaian,
Kesopanan Islam,
Kesopanan Tinggi,
Ketuhanan Yesus,
Kitab Riba,
Kitab Tajwid,
Matan Ajrumiyah,
Merebut Kekuasaan,
Muhammad Rasul,
Nahwu,
Pedoman Tahajji,
Pemerintahan Islam,
Pengajaran Shalat,
Pepatah,
Perempuan Islam,
Qaidah Ibtidaiyah,
Ringkasan Islam,
Risalah Ahmadiyah,
Risalah Hajji,
Risalah Jum’at,
Risalah Kudung,
Special Diction,
Surat Yasin,
Syair,
Talqien,
Tertawa,
Topeng Dajjal,
Wajibkah Zakat?
What is Islam, dan masih banyak lagi.

Semoga sekilas catatan hidup Hassan Bandung ini dapat kihttp://www.blogger.com/img/blank.gifta ambil iktibar untuk dicontohi, Insya Allah. [a. ahmad Hizbullah/voa-islam.com]

referensi:

1. Ensiklopedi Tokoh Muhammadiyah, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PP Muhammadiyah.
2. Hassan Bandung-Pemikir Islam Radikal, Dr Syafiq A Mughni MA PhD., Penerbit Bina Ilmu Surabaya.
3. Riwayat Hidup A. Hassan, H Tamar Djaja, Penerbit Mutiara, Jakarta

http://www.voa-islam.com

Friday, August 19, 2011

KETENTUAN ZAKAT FITRAH




“ Telah Berkata Abu Shu’air bahwa Nabi s.a.w pernah bersabda : Keluarkanlah zakat fitrah satu shaa’ dari Gandum buat tiap-tiap orang yang kecil atau Besar, Merdeka atau Hamba, Kaya atau Faqier, laki-laki atau perempuan. Adapun orang yang kaya diantara kamu, mudah mudahan Allah membersihkannya, dan adapun orang-orang yang faqier diantara kamu itu mudah-mudahan Allah mengembalikan padanya
terlebih dari apa yang telah ia berikan”
{ HR. Baihaqie dan Abu Dawud }

Kewajiban Zakat Fitrah Harus dikeluarkan oleh setiap jiwa Orang-orang Islam sebanyak 1 Shaa’ / 3 ½ Ltr / 2,5 Kg ( beras )

“ Telah berkata Nafi’: Bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar biasa mengirimkan zakat fitrah kepada orang yang mengumpulkan zakat (Amilin), sebelum Hari Raya ‘iedul fithri dua hari atau tiga hari “
{ H.S.R Malik }

PEMBAGIAN ZAKAT

“Telah Berkata Ibnu Umar : Bahwa sesungguhnya Rasulullah s.a.w telah perintah supaya ditunaikan zakat fitrah itu sebelum orang-orang pergi keshalat (Hari Raya)”
{ H.S.R Jama’ah melainkan Ibnu Majah}

“ Berkata Ibnu ‘Abbas : Bahwasanya Rasulullah s.a.w telah mewajibkan Zakat Fitrah sebagai pembersih bagi orang yang Shaum dari pada perbuatan yang tidak berguna dan pembicaraan yang keji, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin, maka barang siapa mengeluarkannya sebelum shalat (hari raya) maka itulah Zakat yang diterima, dan siapa yang mengeluarkannya sesudah Shalat (Hari Raya), maka Cuma mejadi satu dari pada sedekah-sedekah biasa saja”
{H.S.R Abu’ Dawud, Ibnu Majah, Daraquthnie dan Hakim }

Jadi Pembagian Zakat Fitrah Harus dilakukan Sesudah Shalat Subuh sebelum Shalat Iedul Fitri dan Jelas jika itu dilanggar maka Zakat kita akan terhapus menjadi Shadaqah Biasa.


YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT



“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, miskin, Amilin, Mua’llaf yang dibujuk hatinya, memerdekakan budak sahaya, Gharimin, Fisabilillah dan mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah maha mengetahui lagi Maha Bijaksana “
{QS. At taubah ayat 60}




BALASAN BAGI MEREKA YANG ENGGAN MENGELUARKAN ZAKAT

“ Tiap-tiap orang yang menyimpan Harta dengan tidak mengeluarkan Zakatnya, maka Harta itu akan dibakar dineraka jahannam lalu dijadikan keping-keping, lantas disetrikakan didua rusuknya dan dahinya hingga hari yang Allah memberi Keputusan antara hamba-hambanya “
{ H.S.R Bukharie }

my facebook

Popular Posts

Silahkan Kasih Komentar Agar Blog ini Dapat lebih menarik lagi... & Terima Kasih atas Komentarnya.

PENGUNJUNG YANG TERCINTA

Artikel, Gambar, Video yang ada di website ini terkadang berasal dari berbagai sumber website lain, Dan Hak Cipta Sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut. Jika Anda Keberatan, Apabila Ada Artikel, Gambar, ataupun Video yang tidak berkenan bagi anda ataupun merupakan Hak Cipta Anda, Segera KONTAK KAMI agar dapat kami tindak lanjuti secepatnya

VIDEO

Loading...

BERITA KITA

Date Conversion

Date Conversion
Gregorian to Hijri Hijri to Gregorian
Day: Month: Year